Cabai: Cara Jitu Bebas Penyakit

Berkat perawatan tepat, penyakit kabur.

Kebutuhan cabai merah di Indonesia meningkat 7,5% setiap tahun. Sayangnya hal itu tidak diimbangi laju produktivitas yang tinggi. Saat ini produksi per ha berkisar 6—7 ton dari semestinya 12–15 ton. Banyak sebab yang membuat produktivitas anjlok: pengolahan lahan yang tidak tepat, pemakaian benih rentan hama penyakit, serta perawatan yang kurang pas.

Di sisi lain penanaman cabai pada hamparan luas dan waktu tidak serempak rentan menuai masalah. Tanaman yang ditanam  terus-menerus membuat    keragam-an  komponen  biotik  pada  ekosistem  alami di lokasi budidaya, rendah. Walhasil organisme pengganggu cabai leluasa berkembang dan merugikan pekebun. Supaya pekebun terhindar dari beragam masalah, perlu melakukan berbagai tindakan mulai dari pemilihan benih, persemaian, pengolahan lahan, hingga panen.

Berawal dari benih

Untuk benih misalnya, pilih varietas yang cocok dengan lokasi setempat. Para  pekebun di Pantai Utara, Jawa Tengah sebagai contoh bisa menggunakan varietas tanjung. Varietas ini selain cocok tumbuh di dataran rendah juga tahan terhadap  penyakit virus kuning. Sementara di dataran tinggi, pilih cabai hibrida bersertifikat yang terjamin kualitasnya, sebagai contoh lembang-1.

Ketika benih disemai gunakan media campuran 1 bagian pupuk kandang matang dan 1 bagian tanah subsoil yang diambil dari tanah sedalam 20 cm. Sebelum biji disebar, tanah disiram air hingga rata terlebih dulu. Untuk menghindari penyakit yang  terbawa dalam benih, rendam dalam air panas bersuhu 500C hingga air dingin. Bisa pula merendam dalam fungisida berbahan aktif propamokarb hidroklorida dosis 1 ml/1 liter air. Setelah direndam selama 1 jam, lalu benih ditiriskan.

Lahan persemaian sebaiknya diberi naungan plastik tembus cahaya atau naungan atap permanen dengan ketinggian 1,5 m agar sinar matahari bisa menerobos masuk. Untuk menghindari infeksi virus pada bibit di persemaian, tutup persemaian dengan kasa agar serangga vektor tidak  bisa masuk. Kasa berkerapatan 50 mesh dapat menahan kutu daun dan kutu kebul.

Lalu sebelum dipindahtanamkan, olah tanah dengan cara dicangkul sedalam  30—35 cm dan dibalik 2—3 kali. Setiap pembalikan tanah biarkan selama 1 minggu. Tujuannya  agar mikroba patogen tanah terbunuh oleh sinar matahari. Serasah dari pertanaman sebelumnya harus dikumpulkan dan dimusnahkan dengan jalan dibakar karena menjadi sarang ulat tanah.

Pemberian nematisida berbahan aktif karbofuran dosis 1—3 kg/ha mutlak jika ditemukan akar gulma membengkak akibat serangan nematoda atau ditemukan 300 ekor nematoda puru akar dalam 1 kg tanah.  Nematisida diberikan berbarengan dengan aplikasi pupuk kandang.

Induksi

Agar cabai tahan terhadap serangan virus gemini, bibit di persemaian disemprot ekstrak bunga pukul empat Mirabilis jalapa berkadar 25%. Lakukan 5 hari sebelum bibit dipindah ke lahan. Untuk virus mosaik dapat diinduksi vaksin carna-5 10% dengan jalan dioleskan pada daun saat umur 14 hari sebelum tanam. Tujuan induksi merangsang cabai untuk membentuk ketahanan   sistemik terhadap virus.

Setelah  cabai  ditanam di lahan,  gangguan hama dan penyakit tetap mengancam, contohnya hama pengisap daun. Untuk mengatasinya gunakan perangkap berupa kertas kuning—berukuran 20 cm x 30 cm—dibungkus  kantung plastik bening. Bagian terbuka menghadap ke bawah. Olesi bagian luar kantung plastik dengan minyak atau oli bekas agar hama pengisap daun menempel. Perangkap ini diganti setiap 10—14 hari.

Sementara untuk menahan atau mengurangi serangan organisme peng-ganggu tanaman (OPT) dari luar kebun bisa dimanfaatkan tanaman jagung. Tanam jagung di sekeliling kebun 3—4 minggu sebelum bibit cabai dipindahtanamkan. Jagung ditanam 6 baris dengan jarak rapat 30 cm x 15 cm. Masukkan benih jagung 1 butir per lubang tanam. Jika jarak tanam 30 cm x 20 cm, setiap lubang diisi 2 butir benih jagung. Alangkah baiknya pilih jagung manis yang bernilai ekonomi tinggi supaya bisa menambah pendapatan.

Selain jagung, tanaman sela lain yang bisa dimanfaatkan mengurangi serangan OPT adalah tomat dan kubis.  Kedua tanam-an itu bisa ditanam di antara cabai atau di pinggir bedengan. Tomat ditanam 2 minggu setelah cabai, kubis sebulan pascatanam  cabai. (Dr Ahsol Hasyim, Ir Neni Gunaeni,  dan Dr Yusdar Hilman, ketiganya periset di Kementerian Pertanian RI)


Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s